Sekolah Bukan Standar Kecerdasan Seseorang

belajar-menjelaskan

 

Cerita mengenai orang-orang sukses yang dulunya putus sekolah atau kuliah bukanlah barang baru bagi kita, secara tidak langsung memberi pesan ‘kesuksesan tidak ditentukan di sekolah’ dan pastinya banyak orang setuju, pernyataan tersebut membawa semangat bagi mereka yang kurang beruntung di sekolah.

Saya juga setuju dengan pernyataan di atas, sebuah kesuksesan di kehidupan sesungguhnya (di luar sekolah) ada banyak faktor dapat mempengaruhi dan menjadi jalan kesuksesan seseorang. Namun, yang jadi pertanyaan saya adalah apakah sekolah adalah standar kepintaran seseorang? yang artinya semakin tinggi sekolahnya maka semakin pintar. 

Sekolah adalah tempat (fasilitas) untuk menempuh pendidikan, berfungsi mencerdaskan dan menambah pengetahuan. Jadi, secara sederhana orang yang bersekolah akan meningkatkan kecerdasan serta pengetahuannya. Akan tetapi, itu tidak serta-merta menjudge yang tidak sekolah, putus sekolah, tidak ke perguruan tinggi, adalah orang bodoh. 

Belakangan bermunculan kontroversi mengenai sekolah sebagai tempat yang seharusnya menjadikan anak cerdas dan berpengetahuan, karena faktanya dalam sebuah kelas/sekolah hanya ada beberapa siswa yang menonjol pada mata pelajaran, sedang siswa lainnya (kebanyakan) pada beberapa atau 1-2 mata pelajaran saja yang bagus. Bahkan ada anak dicap bodoh karena nilai rata-rata pada mata pelajaran sekolah berada di bawah. 

Pertanyaannya adalah, apakah siswa itu benar-benar bodoh? atau sebenarnya dia memiliki kecerdasaan di luar mata pelajaran di sekolah. Sekolah adalah bagian kecil dari pembelajaran di kehidupan sesungguhnya. 

Saya ambil contoh kecerdasan yang tidak ada di mata pelajaran sekolah, seperti; kecerdasan berbicara di depan umum, kecerdasan yang berkaitan dengan psikologis, kecerdasan musikal (memahami suara/nada), kecerdasan memahami diri sendiri dan orang lain, dan lainnya.

Seseorang yang memiliki kreativitas tinggi akan cenderung tidak bisa diam, dia selalu memiliki pemikiran di luar kotak, aktif melalui ide-ide baru/tidak biasa. Sedangkan sistem di sekolah pada umumnya bersifat mengekang (siswa harus patuh), misal larangan berambut panjang. Banyak seniman berambut panjang (laki-laki). 

Sekolah bisa menjadi bumerang atau mimpi buruk bagi sebagian anak, stigma-stigma yang melekat di sekolah seperti anak bodoh justru menjatuhkan mental dan kepercayaan diri. Ini jelas berpengaruh pada kondisi psikis siswa, bukannya berkembang justru bisa sebaliknya. 

Saya pernah mendengar bahwa perusahaan besar/ternama seperti Google dan Apple, sudah tidak terlalu mementingkan ijazah dalam merekrut karyawan mereka, cepat atau lambat perusahaan lain akan menirunya.

Mereka (Google & Apple) memiliki sumber daya mumpuni, sistem yang kuat, sehingga mampu menyeleksi apakah seseorang itu layak atau tidak dengan skill/kompetensi yang dimilikinya. 

Kecerdasan dapat meningkat seiring kita menggunakan daya pikir, sekolah melatih siswa untuk aktif berpikir secara rutin (hal itu dapat meningkatkan kecerdasan) selain menambah pengetahuan. Namun, di luar sekolah pun kita berpikir dan menghadapi berbagai masalah. 

Di sekolah ada yang membimbing, mengarahkan, jadi memang pada umumnya orang yang bersekolah akan lebih pintar daripada tidak sekolah. Namun, itu kembali kepada keterlibatan guru/orang dewasa di sekolah. 

Ini bukan berarti orang yang tidak sekolah (belajar di luar sekolah) itu bodoh, bahkan pada kondisi khusus, ada anak yang bisa belajar dengan sendirinya, anak berbakat, memiliki kecerdasaan di atas rata-rata, mampu menyerap dan mengolah informasi dengan baik biarpun tidak bersekolah. 

Sekolah adalah tempat (fasilitas) untuk mencerdaskan, itu artinya bukan satu-satunya. 

You May Also Like